Kamis, 03 November 2011

Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel 1453

kalau ada sosok yang ditunggu-tunggu kedatangannya sepanjang sejarah Islam, dimana setiap orang ingin menjadi sosok itu, maka dia adalah sang penakluk Konstantinopel. Bahkan para shahabat Nabi sendiri pun berebutan ingin menjadi orang yang diceritakan Nabi SAW dalam sabdanya.

Betapa tidak, beliau SAW memang betul-betul memuji sosok itu. Sampai beliau SAW bilang dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa sebaik-baik panglima adalah panglima tersebut, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang dipimpinnya.

Siapa yang tidak ingin menjadi orang yang telah dipuji oleh Rasulullah SAW. Dan siapa yang tidak ingin menjadi penakluk Romawi. Di zaman itu, bisa menaklukkan Romawi tentunya sebuah prestasi besar. Sebab Romawi adalah kerajaan besar di Eropa yang sangat berpengaruh. Uang dinar (emas) yang digunakan oleh bangsa Arab, umumnya buatan Romawi. Romawi juga pernah mengalahkan kerajaan besar Persia.

Bahkan salah satu surat dalam Al-Quran bernama Ruum (Bangsa Romawi), yaitu surat nomor 30, yang menggambarkan bahwa Romawi yang nota bene beragama Masehi itu akan berhasil mengalahkan Persia yang Majusi (penyembah api). Dan digambarkan dalam ayat itu bahwa saat mendengar kemenangan bangsa Romawi itu, para shahabat nabi yang disebut sebagai orang-orang beriman akan ikut berbahagia.

Lalu menjadi tantangan tersendiri untuk dapat mengislamkan Romawi. Bahkan Rasulullah SAW sendiri telah berkirim surat kepada pimpinan tertinggi Romawi, yaitu Kaisar Heraklius yang bertahta di Konstantinopel. Ajakan Nabi SAW kepada Sang Kaisar memang tidak lantas disambut dengan masuk Islam. Kaisar dengan santun memang menolak masuk Islam, namun juga tidak bermusuhan, atau setidaknya tidak mengajak kepada peperangan.

Dan beliau SAW sendiri yang mengatakan bahwa dari dua kota besar Romawi, Konstantinopel adalah kota yang pertama kali akan jatuh ke tangan umat Islam.

Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata bahwa ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, tiba-tiba beliau SAW ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma. Rasulullah SAW menjawab,"Kota Heraklius terlebih dahulu (Konstantinopel)".

Sayangnya penaklukan kota kebanggaan bangsa Romawi itu nyaris belum pernah ada yang mampu melakukannya. Tidak dari kalangan shahabat, tidak juga dari kalangan tabi`in, tidak juga dari kalangan khilafah Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah.

Di masa shahabat, memang pasukan muslim sudah sangat dekat dengan kota itu, bahkan salah seorang shahabat yang menjadi anggota pasukannya dikuburkan di seberang pantainya, yaitu Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahuanhu. Tetapi tetap saja kota itu belum pernah jatuh ke tangan umat Islam sampai 800 tahun lamanya.

Abu Ayyub Al-Anshari berkata,"Aku mendengar baginda Rasulullah SAW bersabda bahwa ada seorang lelaki shalih akan dikuburkan di bawah tembok tersebut, Dan aku juga ingin mendengar derap tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik raja, yang mana dia akan memimpin sebaik-baik tentara seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda".

Konstantinopel memang sebuah kota yang sangat kuat, dan hanya sosok yang kuat pula yang dapat menaklukkannya. Sepanjang sejarah kota itu menjadi kota pusat peradaban barat, dan memang tidak pernah ada satu pun lawan yang mampu menembus benteng pertahanannya. Benteng Bosporus memang terlalu tinggi temboknya, terlalu tebal dindingnya. Bahkan benteng itu dikelilingi oleh laut yang membuat musuh yang ingin menerobos akan frustasi.

Namun akhirnya benteng itu jebol juga, dan kota Konstantinopel menyerah. Pahlawan muslim yang ditakdirkan menjadi orang yang telah dikabarkan Rasulullah SAW itu adalah Sultan Muhammad Al-Fatih. Al-Fatih adalah gelar untuk beliau yang maknanya Sang Penakluk atau Sang Pembebas. Karena beliau adalah orang yang berhasil membebaskan jantung Eropa ke tangan Islam. Beliau lahir pada 30 Maret 1432 dan wafat pada 3 Mei 1481. Al-Fatih sejak masih belia telah dididik dengan baik, sehingga telah mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika, dan juga ilmu-ilmu keislaman seperti bahasa Arab, ilmu tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, sastra, dan lainnya. Beliau juga menguasai 6 bahasa saat berumur 21 tahun.

Dari sudut pandang Islam, beliau dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawadhu` setelah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (pahlawan Islam dalam perang Salib) dan Sultan Saifuddin Mahmud Al-Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di `Ain Al-Jalut melawan tentara Mongol).

Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepimpinannya serta taktik dan strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga kaedah pemilihan tenteranya. Ia merupakan anak didik Syekh Syamsuddin yang masih merupakan keturunan Abu Bakar As-Siddiq.

Ia jugalah yang mengganti nama Konstantinopel menjadi Islambol (Islam keseluruhannya). Kini nama tersebut telah diganti oleh Mustafa Kemal Ataturk menjadi Istanbul. Untuk memperingati jasanya, Masjid Al Fatih telah dibangun di sebelah makamnya.

Tentara Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan solat wajib sejak baligh dan separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan solat tahajjud sejak baligh. Hanya Sulthan Muhammad Al Fatih saja yang tidak pernah meninggalkan solat wajib, tahajud dan shalat sunnah rawatib sejak baligh hingga saat kematiannya.

Konstantinopel

Istanbul atau yang dulu dikenal sebagai Konstantinopel, adalah salah satu kota termasyhur dunia. Kota ini tercatat dalam tinta emas sejarah Islam khususnya pada masa Kesultanan Utsmaniyah, ketika meluaskan wilayah sekaligus melebarkan pengaruh Islam di banyak negara. Konstantinopel ini didirikan tahun 330 M oleh Maharaja Bizantium yakni Constantine I. Kedudukannya yang strategis, membuatnya punya tempat istimewa ketika umat Islam memulai pertumbuhan di masa Kekaisaran Bizantium.

Setelah proses persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M. Di hadapan tentaranya, Sulthan Al-Fatih lebih dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah SWT.

Beliau juga membacakan ayat-ayat Al-Quran mengenainya serta hadis tentang pembukaan kota Konstantinopel. Ini semua memberikan semangat yang tinggi pada bala tentera dan lantas mereka menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah.

Sultan Muhammad Al-Fatih pun melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Bizantium di sana. Takbir Allahu Akbar, Allahu Akbar! terus membahana di angkasa Konstantinopel seakan-akan meruntuhkan langit kota itu.

Pada 27 Mei 1453, Sultan Muhammad Al-Fatih bersama tentaranya berusaha keras membersihkan diri di hadapan Allah SAW. Mereka memperbanyak shalat, doa, dan dzikir. Hingga tepat jam 1 pagi hari Selasa 20 Jumadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453 M, serangan utama dilancarkan. Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota.

Tentara Utsmaniyyah akhirnya berhasil menembus kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyyah di puncak kota. Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentara Al-Fatih, akhirnya berjaya mengantarkan cita-cita mereka.

Kamis, 01 September 2011

MENJAWAB TUDUHAN MIRING TERHADAP SYARI’AT ISLAM

Segala puji bagi Allah, Tuhan Pencipta bumi, langit dan isinya, Tuhan Maha mengatur alam, manusia dan kehidupan. Shalawat wa salaman atas Nabi Muhammad, saw. Kepada shahabatnya, dan pengikut jejak langkah da’wahnya, untuk lebih memudahkan pemahaman para pembaca)
        Tuduhan miring tentang Syari’at Islam yang datang dari berbagai kalangan  kalangan kafirin, munafiqiin, zalimiin maupun manusia yang ditokohkan dalam kelompoknya dengan predikat kyai haji, ulama, atau cendikiawan, itu adalah merupakan sunnatuloh yang telah terjadi semenjak dimulainya perjuangan Islam oleh Rasulullah, saw. Hingga sekarang dan akan terjadi di masa yang akan datang. Hal itu dimaksudkan agar jelas dan nyata antara yang haq dan bathil, yang halal dan haram, yang iman dan syirik, yang muslim dan yang kafir.
       Ada orang yang mengatakan “Kalau Syari’at Islam ditegakkan di negeri ini, maka akan terjadi disintegrasi bangsa” itu sangatlah wajar bagi akal manusia yang berada pada alam jahiliyah, karena mereka belum memahami hukum wajibnya menegakkan Syari’ah Islam, baik secara aqidah maupun syri’ah.
       Dan dari  kalangan tokoh Islam dari kalangan politisi sendiri yang mengatakan “Jika Syari’at Islam ditegakkan di negeri ini, berarti bangsa ini  mundur ratusan tahun ke belakang” peryataan itu masuk akal bagi para pemilik akal yang berada pada kungkungan alam jahiliyah.
       Dan ada tokoh politik dari partai berbasis Islam mengatakan: “Di negeri ini tidak mungkin ditegakkan Syari’ah Islam ,karena masyarakatnya, masyarakat pluralis” itu merupakan pendapat rasional bagio mereka yang di negeri ini lebih mencintai kebenaran Allah yang adil dan benar secara hakiki.
        Ada seorang cendikiawan berpendapat: “Jika ada kelompok yang memaksakan kehendak untuk menegakkan Syari’at Islam, namanya orang gila” itu memang lumrah karena yang berkata memang orang yang termasuk tidak memiliki akal dan enggan menggunakan akalnya untuk berfikir dan memahami tentang tata aturan dan hukum Alloh yang Maha  benar.
        Ada tokoh partai Islam, yang partainya berasas Islam dan katanya hendak memperjuangkan tegaknya Syari’at Islam, namun melontarkan tuduhan miring, bahwa: “Bagaimana mungkin Syari’at Islam itu tegak, nanti akan sulit bagi umat Islam, mobil,taksi dan fasilitas umum saja masih milik orang  kafir” alangkah kerdil pemikiran dan pemahaman orang yang demikian tentang Syari’at Islam. Orang itu juga berpendapat: ”bahwa tegaknya Syari’at Islam melalui tegaknya Daulah Khilafah adalah hal yang mustahil”. Mengapa demikian? Karena belum memahami Islam secara utuh. Artinya Islam yang dianut hanya sebatas spiritual, tidak sampai akalnya untuk memahami Islam sebagai ideologi yang sempurna.
        Akhir-akhir ini, ada anak muda yang baru usia kurang dari 30 tahun, ia sekarang telah dijadikan tokoh kampusnya, ia lulusan fakultas Syari’ah (Syari’ah Islam tentunya) di sebuah perguruan Tinggi Islam di Jakarta, ia mengatakan: “Dalam  Al-Quran tidak ada satu potong ayatpun yang menyebutkan Syari’at Islam, menyeru harus menegakkan Syari’at Islam”, apalagi dibawah naungan negara Khilafah. Dia dijadikan tokoh dan cendikiawan muda yang diagungkan karena berani memiringkan ayat-ayat Al-Quran. Bukan hanya dia, banyak lahir doktor dan profesor dari hasil memiringkan Syari’at Islam dan menolak ayat-ayat Al-Quran yang berkenaan dengan hukum Islam. Dampak yang terjadi akhir-akhir ini telah lahir demontrasi gerakan anti jilbab, karena Jilbab telah memasung kebebasan kaum wanita dalam berbusana. (Wawancara di media cetak, pernyataan di forum diskusi dari Tokoh organisasi Islam, Partai Islam dan Aktivis kampus Islam tahun 2002 yang dihimpun oleh Pengasuh Rujukan Tabloid MingGuan Jurnal Islam).
      Orang yang sudah terlanjur memiliki pemikiran yang miring ketika menghadapi sebagian dari kaum muslimin yang menyerukan hukum wajibnya menegakkan Syari’ah Islam ,akan semakin miring tentang Syari’ah Islam sejatinya orang-orang yang tidak memiliki jalan menuju iman. Kalau mereka beriman, iman mereka semu, samar, bahkan ikut-ikutan (taqlid) padahal imannya orang yang taqlid tidak sah. Maka ketika menghadapi gerakkan penegakkan Syari’ah Islam, sementara kesenangan hawa nafsunya terancam, maka Ghorizatul baqo (naluri mempertahankan  Islam) muncul. Mereka akan mengerahkan segala potensi pemikirannya untuk menangkal pemikiran yang shoheh tentang tegaknya Syari’at Islam, baik dengan manufer pernyataan politik, konferensi press, berdalil yang tidak jelas asal-usulnya dalil dan yang palinh tidak luwes mengerahkan masa melalui politik penyesatan (tadhilul ummat Iis-siyasah)  dan manuver politik pembohongan umat (takdzibul ummat Iis-siyasah) demi kelestarian kesenangan yang selama ini dinikmati hawa nafsunya. Prinsip mempertahankan diri seperti itu tidak ubahnya seperti prinsip binatang yang kapan saja dapat saling berantanm dan saling bunuh membunuh dengan sesama teman sendiri dalam kandangnya sendiri.
          Ketika Nabi,saw. menyampaikan da’wah di tengah gemerlapnya kehidupan  Jahiliyah di Mekah, ketika Abu Lahab, Abu Jahal dan konco-konconya sedang memuaskan diri, hidup dalam kesenangan hawa nafsu yang tidak mengenal haq dan  bathil, halal  dan haram, mukmin dan musryik, tiba-tiba muncul sosok manusia yang menyampaikan pemikiran yang mencela tata kehidupan mereka mengadakan gerakan yang berlawanan dengan pemikiran, pemahaman dan perilaku mereka, maka Nabi SAW, Langsung dicap sebagai orang sinting ,orang ayan, orang gila dan tuduhan-tuduhan miring lainnya yang pada prinsipnya menolak Islam tanpa kompromi. Bukti lain, ketika Muhammad SAW  belum memiliki predikat kenabian, bangsa Arab kepada beliau, karena beliau adalah anak muda yang jujur, cerdas dan terpercaya serta lahir dari kalangan bangsawan Quraisy.  Namun ketika beliau tiba-tiba mengaku Nabiyalloh, yang menyampaikan ajaran baru (Islam) dihadapan mereka, maka spontanitas, puji-pujian kepribadian berbalik menjadi cacian dan hinaan seperti tuduhan miring kepadanya sebagai orang gila (majnun) dan tuduhan  miring lainnya. (Baca Qs, Al-Qolam: 1-4)
        Ketika manusia hidup di alam demokrasi yang diracuni oleh pemikiran kapitalis, maka akan membentuk komunitas jahiliyah abad baru yang memiliki pemikiran, pemahaman, dan perilaku yang sama dengan jahiliyah masa kenabian, sama-sama memiliki pemiiran yang miring terhadap Islam. Bagaimana dengan pikiran demokrasi sekarang ini? Bagaimana dengan komunitas manusia yang telah memiliki hati nurani kapitalis? Mereka sama dengan jahilIyah dahulu, yang berbeda hanya kurun dimensi tata pemikiran dan karakter peradaban saja.
Hal itu seperti yang dikatakan Juru bicara Hizbut Tahrir pada wawancara dengan Tabloid Jurnal Islam, edisi 69 9-15 November 2001 bahwa: “Yang menolak Syari’at Islam, tidak pantas menyebut dirinya muslim”.
        Pernyataan-pernyataan diatas, fakta yang pernah dihimpun media masa terutama media yang pro dan kontra terhadap Syari’ah Islam, termasuk yang saya himpun melalui Tabloid Jurnal. Bagaimana pendapat kaum muslimin jika menghadapi manusia yang berpendapat demikian? Sedangkan mereka masih mengaku muslim, bahkan ditokohkan oleh kebanyakan orang Islam.
        Bagi kaum muslimin yang telah memiliki iman dalam dan perasaan yang yakin tentang allah SWT  sebagai pencipta dan Pengatur  alam, manusia dan tata kehidupan ini, akan berkomentar bahwa siapapun predikatnya, yang mengatakan dan berpendapat miring terhadap tegaknya Syari’at islam, maka orang tersebut bukan seorang mukmin (yang beriman). Karena orang yang beriman dengan baik dan benar dan menjadi muslim yang konsekwen akan mengambil konsekwensi logis, yaitu dirinya memiliki kewajiban untuk memperjuangkan, melaksanakan dan mempertankan tegaknya Syari’at islam.
       Orang yang memiliki keimanan yang dalam dan perasaan yang yakin akan adanya Allah SWT yang maha pencipta bumi,langit dan seisinya yang ada diantara keduanya dan Tuhan yang Maha mengatur dengan hukumnya, maka orang tersebut sepakat dengan benar tentang apa yang diungkapkan oleh Syakh Taqiyyuddin sebagai berikut:
“Islam sebagai ideologi bagi tegaknya daulah, masyarakat dan kehidupan. Islam menjadikan antara negara dan hukum adalah satu bagian. Islam menyeru kaum muslimin untuk menegakkan negara dan hukum. Dan kaum muslimin diseru untuk menegakkan negara dan hukum. Dan kaum muslimin diseru untuk menghukumi dengan hukum Islam (Syari’at Islam)” (Nidzomul Hukmi fil Islami:  13) Selanjutnya Taqiyyuddin menuturkan dalam tulisanya: Dengan pendapat  tersebut, di dukung oleh banyak ayat-ayat Al-Quran yang turun berkenan dengan wajibnya kaum muslimin menegakkan Daulah dan Syari’ah Islam sebagai berikut:


﴿فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ﴾

1.        “Maka putuskan hukum diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan  jangan menuruti haw.a nafsu mereka untuk meninggalkan kebenaran yang telah diturunkan padamu…” (QS. Al-Maidah: 48)

﴿وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوْكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللهُ إِلَيْكَ﴾

2.        “Dan hendaklah kamu semua memutuskan hukum diantara mereka menurut apa yang telah diturunkan oleh Alloh (Al-Quran) dan jangan menuruti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah jangan sampai mereka mempengaruhimu untuk meninggalkan sebagian apa yang diturunkan oleh Allah kepadamu” (QS.Al-Maidah: 49)

﴿وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُوْنَ

3.        “Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu orang-orang kafir” (QS.Al-Maidah: 44)

﴿وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ

4.        "Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu orang-orang zalim" )QS.Al-Maidah: 45(

﴿وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُوْنَ﴾

5.        "Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu orang-orang fasik" )QS. Al-Maidah: 47(

﴿فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ حَتَّى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوْا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيمًا﴾

6.       "Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sehingga mereka bertahkim kepadamu dalam segala perselisihan diantara mereka. Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hatinya menerima hukummu (putusanmu) dan mereka sepenuhnya menyerah kepadamu (QS.An-Nisa: 65)

﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ﴾

7.        Wahai orang-orang beriman, patuhlah kepada Alloh, patuhlah kepada Rasul dan    orang-orang yang memerintah (Ulil Amri) diantara kamu (Kaum muslimin)(QS. An-Nisa: 59)

﴿وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

8.        Jika kamu menghukumi diantara manusia, maka hukumilah kamu dengan (hukuman) yang adil" )QS. An-Nisa: 58(

                        Nampaknya Sayid Qutb, sependapat dengan Syekh Taqiyuddin, Qutub menulis keyakinannya sebagai berikut: “Umat dalam tatanan islam yaitu mereka yang memilih Hakim yang melaksanakan Syari’at islam. Akan tetapi Hakim bukan sebagai sumber hukum . Dan hakim mengambil sumber hukum dari Allah swt. Semua manusia di muka bumi ini yang sering dinamakan bangsa tidak memiliki hukum . Dan yang memiliki hukum adalah Allah,swt. Manusia hanya diberi tugas wajib melaksanakan hukum-Nya (Syari’at islam). Jika tidak melaksanakan Syari’at islam itu , maka tidak ada kekuasaan dan tidak ada hukum.” (At-Thoghut:116:Abdul Mun’im,Darul Bayariq, 1995)
                         Orang yang memiliki tuduhan miring terhadap Syari’at Islam oleh Alloh ditetapkan sebagai pembangkang (kafaru) dan yang menuduh miring terhadap syari’at islam itu adalah orang yang mengerti Islam seperti dari kalangan partai Islam, ormas Islam atau tokoh Islam lainnya, maka digolongkan kepada kelompok  pendusta (kadz-dzabu) ayat Allah SWT Orang-orang yang demikian itu hakekatnya bukan musuhnya orang-orang mukmin yang sedang da’wah memperjuangkan tegaknya Islam dan kedaulahannya, namun sudah menjadi musuh Alloh, swt. Karena dalil:





﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اُعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ﴾

“Dan sungguh telah kami utus Rosul untuk setiap umat, agar menyembah (ibadah) kepada Allah dan menjauhi thoghut, maka diantara mereka (umat) ada yang diberi hidayah oleh Allah, dan sebagian dari mereka diberi kepastian sesat.” (QS.An-Nahl: 36)

      Peringatan bagi manusia yang  ada dimuka bumi ini, baik bagi yang menuduh mirinh terhadap Syari’at Islam maupun yang menganggap lurus (Iman), maka Alloh memberikan ancaman bagi yang menuduh miring, baik dalam kategori mendustakan (kadz-dzabu) dengan firman-Nya:

﴿وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ﴾

“Dan orang-orang yang membangkang (kafir) dan mendustakan ayat-ayat kami (Al-Quran), mereka itu menjadi penghuni neraka, mereka kekal didalamnya”. (QS.Al-Baqoroh:39)

 Kategori membangkang (kafaru) dan mendustai (kadzabu) satu ayat dari bagian ayat-ayat Al-Qur’an sama membangkang secara keseluruhan. Karena konsekwensinya bagi orang-orang yang beriman kepada Allah secara pasti adalah wajibnya iman kepada hukumnya (Syari’ah Islam) secara total, karena semua dari Al-Quran dan Sunnah Rasul SAW, jika mengingkarinya, maka orang tersebut hukumnya menjadi kafir.
                        Syaikh Taqiyyuddin An- Nabhani menjelaskan: bahwa mengingkari hukum syara’ (Syariat Islam) secara global atau sebagian itu sama saja dalam kekafiran, baik masalah ubudiyah maupun muamalah. Satu contoh kafir terhadap shalat, sama saja kafir terhadap ayat masalah jual beli dan hukumnya riba… ( Nidzomul Islam : 13).
                        Mengapa ada tokoh agama Islam  memiliki tuduan miring rerhadap Syari’ah Islam sebagai hukumnya sendiri? Mengapa ada tokoh organisasi Islam, menuduh kampungan dan kuno  terhadap Syari’ah Islam sebagai sumber hukum agamanya sendiri? Mengapa ada tokoh politik Islam enggan bahkan menyoal  dan menuduh miring terhadap tegaknya Syari’ah Islam? Mengapa ada cendikiawan muslim berpemikiran menceng dan keliru lalu memilih pemikiran yang bukan Islam, kemudian menuduh dengan ungkapannya: “Memilih Syari’at Islam berarti bangsa ini mundur ribuan tahun ke belakang”.
                        Semua ada faktor yang menyebabkan mereka berpemikiran demikian. Ada konspirasi pemikiran yang merasuk ke dalam pikiran (jawwul fikroh) mereka. Dan terjadi pergumulan pemahaman antara Islam dan non Islam dan pemikiran kafir seperti kapitalis dan demokrasi menuduh mendominasi  pemikirannya, maka lahirlah pemikiran  dan pemahaman yang keliru terhadap Syar’iat Islam. Konspirasi dan perlawanan dalam pemikiran  tidak berasal dari  ideologi kapitalis. Ideologi ini digerakkan Amerika dan Barat pada umumnya yang memberikan suntikan racun mematikan bagi manusia yang tidak memiliki iman yang dalam dan tidak memiliki perasaan yakin terhadap Allah sebagai Tuhan Pencipta Alam, manusia , kehidupan dan Tuhan yang Maha Mengaturnya (Al-Muddabir). Maka ketika mereka  telah kalah, menyerah dan bertekuk lutut kepada pemikiran dan system mereka (kapitalis dan demokrasi) maka pemikiran, pemahaman dan ucapan terhadap Syari’at Islam yang dianggap oleh ideology kapitalis sebagai musuh utama, akan miring, sumbang dan cenderung profokasi negative terhadap siapa saja yang menyerukan Syari’at Islam. Mereka dijuga dijuluki  ekstrimis, fundamentalis dan julukan paling mendunia saat ini, yaitu sebagai “teroris”.

SERANGAN BALIK, MENGUNGKAP KEBOBROKAN SISITEM KAPITALIS

        Kejahatan kapitalis paling mendasar adalah sekulerisme, yaitu:  prinsip  pemisahan antara agama dan tata kehidupan (fashluddin ‘anil hayat). Sehingga setiap manusia memiliki hak kebebasan yang diletakkan oleh sistem kapitalis ini, yaitu kebebasan beraqidah, berpendapat, kepemilikan dan kebebasan individu. Kemudian kebebasan ini dilindungi oleh HAM, yagn dikukuhkan hukumnya melalui  deklarasi Human rigts yang disponsori PBB.
         Keboborokan kapitalis ini melahirkan peradaban yang busuk dan penuh dengan kejahatan di muka bumi ini. Kejahatan politik, kejahatan kekuasaan maupun kejahatan individu yang menyeret kepada tingkat kriminalitas yang semakin tinggi. Lewat pengkajian yang rinci (tafsilii), maka dapat kita simpulkan bahwa kapitalis melahirkan peradaban yang rusak. Peradaban ini  (al-hadhoroh) digali dari pemikiran manusia yang yang lepas dari wahyu Allah Swt. Dan “peradaban yang benar” adalah peradaban yang didasarkan kepada aqidah Islam dan digali dari kitabullah dan Sunnah Rasul (Islam). Akibat berpihak kepada peradaban yang rusak, maka melahirkan kebijakan publik yang rusak.

a.       Kebijakan politik : melahirkan politik Opurtunis
          Sulit bagi kaum muslimin yang hendak menjadi muslim yang baik yang mampu menjalankan tugas-tugas pokok ialah da’wah dan jihad di lapangan politik, kalau tidak “taffaruq” (melepaskan diri) dengan berbagai kebijakan politik sekuler. Ideologi kapitalis yang sekuler  dan melahirkan gerakan demokrasi sebagai anak emasnya, akan melahirkan gerakan politik opurtunis. Ciri khasnya,  standarnya bukan lagi hak dan bathil, halal dan haram, namun berstandar menang atau kalah, berkuasa atau dikuasai, memimpin atau menjadi rakyat yang ditindas.
Dan kaum muslimin mayoritas pada  gerakan politik abad 21 sudah masuk wilayah perangkap kapitalis. Demokrasi adalah sebuah pemaksaan negara-negara Barat terhadap dunia ketiga, termasuk dunia Islam. Politik yang berasas demokrasi hanya melahirkan pertentangan, perselisihan, permusuhan dan saling ancam mengancam, bahkan tidak sedikit saling bunuh membunuh. Yang pada akhirnya pengikutnya terseret kepada jalan celaka di dunia maupun di akhirat.

b.      Kebijakan Akademis : melahirkan materialisme
         Tak terkecuali perguruan Islam sekalipun, model pendidikan sekarang ini,  menyeret peserta didiknya untuk menjadi sosok yang hanya mempu kerja dalam mesin produksi Kapitalisme. Padahal tujuan pendidikan pada hakikatnya adalah system perubahan perilaku dari kanak-kanak kepada dewasa agar mampu membedakn  mana yang baik dan mana yang buruk secara syara’ (halal dan haram, haq dan bathil). Karena pola pendidikan jika tidak mengarah kepada pola materi (kerja)tidak akan laku, maka tujuan pendidikan diabaikan dan tujuan yang semula digeser kepada tujuan materialistis yaitu belajar untuk mencari kerja. Akhirnya pendidikan Kapialisme tidak akan pernah  melahirkan pemikiran yang bertanggung jawab untuk memikirkan alam, manusia dan kehidupan sebagai starting poin  menegakkan tugas kecendikiawanannya yaitu da’wah dan jihad. Namun  hanya  melahirkan para ilmuwan yang berstandar untung dan rugi untuk dirinya sendiri (materialistik), dampak dari perilaku itu, maka akan melahirkan para koruptor kolektif  dan benih pelaku KKN.

c.        Kebijakan berfikir: melahirkan sekulerisme
          Cukup menjadi fakta, sulit ditemukan  lulusan perguruan tinggi, baik yang dari dalam negeri maupun luar negeri, baik lulusan dari timur maupun barat yang  mau berikhlas diri untuk menjadi pengemban da’wah yang benar menurut Allah dan Rasull-Nya. Ulama mana di negeri ini yang mampu menjadi juru bicara Rasulullah SAW, sebagai warotsatul ambiya dan  penyambung khulafaur rosyidin untuk menyampaikan Islam kembali seperti sediakala dan untuk melangsungkan kehidupan Islam, sehingga manusia (kaum muslimin) di kolong langit ini mau menududukkan Islam sebagai sentral segala persoalan? Jawabannya “ada namun sedikit sekali” Adapun jawaban kebanyakannya adalah bahwa banyak para cendikiawan kampus dan para “ulama-ulama”-an, terlalu sibuk mengurusi kepentingan dirinya sendiri dan lupa terhadap tugasnya untuk memberikan pemahaman Islam kepada umat manusia, amar ma’ruf dan nahi munkar. Mereka dari para ulama  tidak mau mengingatkan kaum muslimin yang sudah melupakan Rasulullah Saw, melupakan Khulafaur-rasyidin dan melupakan apa yang diperjuangkan Rasulullah SAW dan para sahabat. Yaitu memperjuangkan Islam sebagai Daulah dan meletakkan supermasi Hukum yang tertinggi kepada Allah swt, sebagai pengatur tatanan hidup  manusia. Baik dalam bermasyarakat maupun dalam bernegara.
           Akhirnya kaum muslimin terjebak  hidupnya dalam  pola pikir dikotomi antara Negara dan kehidupan. Bahwa agama dianggap hanya ada dalam dada masing-masing. Kehidupan harus dialakukan dan diatur oleh akal dan kehendak hawa nafsu manusia. Dampaknya di kalangan kaum muslimin sedikit fuqoha (Ahli Hukum Syara’) namun banyak sekali ulama dan cendikiawan yang menjadi propagandis (Khuthoba) yang notabene tidak faham fiqih (hukum Syara’). Kemudian mendudukan Islam pada posisi spiritual yang direkayasa oleh akal pikirannya, yang hanya sekedar menentramkan hati individu. Dan tidak meyakini islam sebagai ideology dan hukum yang wajib ditegakkan di muka bumi dalam rangka pengaturan hidup bermasyarakat dan bernegara.

d.        KebijakanekonomiKapitalis                                                                              
           Indonesia sudah memasuki tahun ke-lima, hidup dalam kungkungan krisis multi dimensional. Namun krisis tak kunjung usai, bahkan semakin terpuruk apalagi ikut campur tangannya IMF, semakin menenggelamkan nasib rakyat ke jurang kebobrokan ekonomi, karena IMF sejatinya sebuah lembaga propaganda kapitalis dibidang moneter yang mencengkramkan hegemoni Amerika ke seluruh Negara berkembang. Tujuannya bagaimana tekuk lutut terhadap kehendak Amerika Serikat dalam rangka melangsungkan geopolitik dunia yang mulus. Keboborokan yang dapat dilihat langsung dan berbahayanya terhadap Islam adalah standar yang diterapkan oleh ekonomi kapitalis, bukan halal dan haram namun menguntungkan bagi dirinya sekalipun menghancurkan orang lain. Karena sejatinya ekonomi kapitalis adalah sebuah system ekoniomi yang berkubang imperialis (musta’mirin) bagi penerimanya. Kasus yang terkini di Indonesia adalah lahirnya controversial diklalangan pelaku Negara (eksekutive) maupun kalangan politisi. Yang tidak mustahil dijadikan alat saling menjatuhkan dalam mempropagandakan tujuan politiknya bagi masing-masing partai peserta pemilu. Pada ujungnya ekonomi kapitalis selalu melahirkan perpecahan, permusuhan dan saling jatuh menjatuhkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.

e.        Perlakuan Sistem Kapitalis terhadap wanita
          Sebagaimana disebut diatas, bahwa kapitalis melahirkan prinsip pemisahan agama dari tata kehidupan (fashluddin ‘anil hayat), maka sistem kapitalis tidak mengenal hukum halal dan haram, hak dan bathil, dan tidak mengenal apakah patuh kepada Tuhan dan maksi’at.
              Ketika wanita diberikan ketetapan hukum Syara’, wajib menutup aurat seluruh anggota badan dimuka umum dan dibatasi dalam pergaulan, maka tidak dapat ditawar lagi, keharusannya melaksanakan diantara kedua kewajiban tersebut dari semua kewajiban lainnya yang ditetapkan oleh hukum Syara’. Namun ketetapan hukum Syara’ tersebut dibuat gerakan perlawanan oleh system kapitalis dengan isi kebebasan melalui proses pemikiran sekuler dan sikap demokrasi yang menamkan prinsip kebebasn. Kapitalis dengan sekulerisasi dan demokrasi menanamkan kepada kaum wanita tentang emansipasi wanita, dalam rangka mengejar kesejajaran dengan kaum laki-laki tanpa batas. Dan kapitalis juga mengajarkan trend busana masa kini yang akhirnya membentuk satu peradaban modern yang menyesatkan. Maka kaum wanita hidup dalam kebebasan bergaul tanpa batas dengan kaum laki-laki dan bebas mengenakan pakaian yang dia sukai tanpa melihat lagi hukum Syara’ dan akhirnya pertimbangannya adalah pergaulan modern dan trend busana. Akhirnya sikap materialistis yang merasuk disetiap perilaku wanita. Dan sikap inilah yang menyeret  kepada perbuatan maksi’at. Karena dirinya rela diperlalukan apa saja dan oleh siapa saja, selama menguntungkan bagi dirinya. Dampaknya munculnya pelacur-pelacur, baik papan atas maupun kelas  jalanan. Munculnya perjudian dan narkoba. Semua dampak dari sifat pergaulan yang tanpa batas dan pembauran dunia wanita dan laki-laki yang dihalalkan oleh system kapitalis. Maka kapitalis adalah gerakan yang telah memotong system yang telah ditetapkan Alloh semenjak diutusnya Nabi SAW. Ketika pra kenabian, jahiliyah telah membebaskan hidup bagi kaum kuat menindas yang lemah, maka wanita tidak harganya sama sekali, karena tidak memberikan sublimasi kekuatan bagi kaum pria. Namun dengan lahirnya Nabi SAW dan membawa Risalahnya, mengubah dari sistem penindasan harkat dan martabat wanita yang diangap hina bagai binatang menjadi kedudukan yang wanita terhormat dilindungi oleh hukum (Islam). Dan sistem itu kini telah dipotong oleh gerakan kapitalis barat yang kafir. Padahal pada dasarnya wanita dan laki-laki terpisah sedangkan bolehnya berkumpul (dalam pergaulan) dalam satu tempat dua jenis itu karena adanya hukum Syara’ yang membolehkan. Namun prinsip ini sedikt demi sedikit dimusnahkan oleh sistem, kapitalis melalui proses peracunan pemikiran dan ideologi, baik melalui pendidikan, pergaulan di masyarakat maupun melalui sosialisasi peradaban barat yang sesat dan menyesatkan.
          Sistem kapitalis ini telah terbukti dalam meracuni kaum muslimin, dan wanita-wanita muslimah, seperti kasus yang masih hangat sebagai fakta di IAIN Jakarta, ketika ada kelompok mahasiswa berdemo anti jilbab dan menuntut kebebasan mahasiswi IAIN dalam berbusana (sumber dari salah satu dosen). Mengapa itu terjadi? Karena keberhasilan gerakan pemikiran sekuler sebagai proses sosialisasi sistem kapitalis dikalangan perguruan tunggi Islam.      Wallahu a’lam bus-showab

Selasa, 30 Agustus 2011

SEKILAS TENTANG NABI NUH


 

· Banjir Nabi Nuh
Banjir Nuh, yang disebutkan dalam hampir seluruh kebudayaan, adalah satu contoh yang paling banyak diuraikan dalam Al Qur-an. Keengganan umat Nabi Nuh terhadap nasihat dan peringat-annya, reaksi mereka terhadap risalah Nabi Nuh, serta peristiwa banjir selengkapnya, semua diceritakan secara rinci dalam banyak ayat Al Quran.
Nabi Nuh diutus untuk mengingatkan umatnya yang telah mening-galkan ayat-ayat Allah dan menyekutukan-Nya, dan mengajak mereka menyembah Allah semata dan menghentikan pembangkangan mereka. Meskipun Nabi Nuh telah berkali-kali menasihati umatnya agar menaati perintah Allah serta mengingatkan akan kemurkaan Allah, mereka masih saja menolak dan terus menyekutukan Allah. Dalam Surat Al Mu'mi-nuun, perkembangan peristiwa itu dilukiskan sebagai berikut:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?
Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya men-jawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.
Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu. Nuh berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendusta-kanku.” (QS. Al Mu’minuun, 23: 23-26) !

Sebagaimana dikemukakan dalam ayat-ayat tersebut, pemuka ma-syarakat di sekitar Nabi Nuh menuduh Nabi Nuh berusaha meraih ke-unggulan atas kaumnya, yakni, mencari keuntungan pribadi seperti status, kekuasaan, dan kekayaan, dan mereka mencoba menunjuk dia sebagai “kesurupan”, dan mereka memutuskan untuk membiarkannya sementara waktu, dan menekannya.
Karena itulah, Allah menyampaikan pada Nuh bahwa mereka yang menolak kebenaran dan melakukan kesalahan akan dihukum dengan ditenggelamkan, dan mereka yang beriman akan diselamatkan.
Maka, pada saat hukuman datang, air dan aliran yang sangat deras muncul dan menyembur dari dalam tanah, dibarengi dengan hujan yang sangat lebat, menyebabkan banjir dahsyat. Allah memerintahkan kepada Nuh untuk “menaikkan ke atas perahu pasangan-pasangan dari setiap jenis, jantan dan betina, serta keluarganya, kecuali mereka yang menen-tang apa yang telah dinyatakan wahyu”. Seluruh manusia di daratan tersebut ditenggelamkan, termasuk “anak laki-laki” Nabi Nuh yang semula berpikir bahwa dia bisa selamat dengan berlindung ke gunung terdekat. Semuanya tenggelam kecuali yang naik ke perahu bersama Nabi Nuh. Ketika air surut di akhir banjir, dan “kejadian telah berakhir”, perahu terdampar di Judi, yaitu sebuah tempat yang tinggi, sebagaimana yang diinformasikan Al Quran kepada kita.
Studi arkeologis, geologis, dan historis menunjukkan bahwa peris-tiwa tersebut terjadi sebagaimana diceritakan Al Quran. Banjir tersebut juga digambarkan secara hampir serupa pada banyak catatan peradaban-peradaban masa lalu dan dalam banyak dokumen sejarah, meski ciri-ciri dan nama-nama tempat beragam, dan “semua yang terjadi pada manusia yang salah” disajikan untuk manusia saat ini sebagai peringatan.
Di samping dikemukakan dalam Perjanjian Lama dan Baru, kisah tentang banjir Nuh ini diungkap secara serupa dalam catatan-catatan sejarah Sumeria dan Asiria-Babilonia, dalam legenda-legenda Yunani, dalam epik Shatapatha Brahmana dan Mahabarata dari India, dalam beberapa legenda Wales di Kepulauan Inggris, dalam Nordic Edda, dalam legenda-legenda Lithuania, dan bahkan dalam cerita-cerita yang berakar dari Cina.
Bagaimana mungkin cerita-cerita yang begitu rinci dan relevan dapat dikumpulkan dari berbagai daratan yang jauh secara geografis dan budaya, saling berjauhan sesamanya, juga dengan wilayah banjir?
Jawabannya jelas: Fakta bahwa peristiwa yang sama dituturkan dalam berbagai catatan sejarah berbagai bangsa tersebut, yang kecil kemungkinan saling berkomunikasi, merupakan bukti nyata bahwa mereka menerima pengetahuan dari sebuah sumber ilahiah. Tampak bahwa Banjir Nuh, salah satu kejadian terbesar dan paling destruktif dalam sejarah, telah diwartakan oleh banyak nabi yang diutus ke pelbagai peradaban dengan tujuan untuk memberi contoh. Dengan demikian, berita tentang banjir Nuh tersebar ke berbagai kebudayaan.
Namun, walau banyak diriwayatkan dalam berbagai budaya dan sumber ajaran berbagai agama, cerita tentang banjir dan Nabi Nuh itu telah banyak berubah dan membias dari kisah aslinya karena kepalsuan sumber, kekeliruan penyampaian, atau bahkan mungkin karena tujuan yang tidak benar. Riset menunjukkan bahwa di antara sekian banyak riwayat yang menuturkan peristiwa tersebut dengan berbagai perbedaan, penggambaran paling konsisten hanya terdapat dalam Al Quran.

· Nabi Nuh dan Banjir dalam Al Quran

Banjir Nuh disebutkan dalam banyak ayat di dalam Al Quran. Di bawah ini bisa dilihat ayat-ayat yang disusun berdasarkan urut-urutan peristiwa banjir tersebut:

· Ajakan Nabi Nuh atas Kaumnya kepada Agama Kebenaran
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat)’.” (QS. Al A’raaf, 7: 59) !
“Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka ber-takwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.” (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 107-110) !
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa ka-mu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Al Mu’minuun, 23: 23) !

· Peringatan Nabi Nuh kepada Kaumnya
akan Hukuman dari Allah:

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang ke-padanya azab yang pedih.” (QS. Nuh, 71: 1) !
“Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal.” (QS. Huud, 11: 39) !
Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku kha-watir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedih-kan. (QS. Huud, 11: 26) !

· Pembangkangan Kaum Nabi Nuh

“Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: ‘Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata’.” (QS. Al A’raaf, 7: 60) !
“Mereka berkata: ‘Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah de-ngan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar’.” (QS. Huud, 11: 32) !
“Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin ka-umnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkata Nuh: ‘Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) menge-jekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami)’.” (QS. Huud, 11: 38) !
“Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya men-jawab: ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu’.” (QS. Al Mu’minuun, 23: 24-25) !”
“Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh, maka mere-ka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: ‘Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman’.” (QS. Al Qamar, 54: 9) !

· Penghinaan terhadap Para Pengikut Nabi Nuh

“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: ‘Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memi-liki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bah-wa kamu adalah orang-orang yang dusta’.” (QS. Huud, 11: 27) !
“Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?” Nuh menja-wab: “Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan?” Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari. Dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku (ini) tidak lain melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan.” (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 111-115) !

· Peringatan Allah agar Nabi Nuh Tidak Bersedih

“Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. Huud, 11: 36) !

· Doa Nabi Nuh

Maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka, dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang mukmin besertaku.” (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 118) !
“Maka dia mengadu kepada Tuhannya: ‘Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku)’.” (QS. Al Qamar, 54: 10) !
“Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaum-ku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran)’.” (QS. Nuh, 71: 5-6) !
“Nuh berdoa: ‘Ya Tuhanku, tolonglah aku, karena mereka mendusta-kan aku’.” (QS. Al Mu'minuun, 23: 26) !
“Sesungguhnya Nuh telah menyeru Kami: Maka sesungguhnya seba-ik-baik yang memperkenankan (adalah Kami).” (QS. Ash-Shaaffaat: 75) !

 

· Pembuatan Bahtera

“Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang zalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS. Huud, 11: 37) !

· Penghancuran Umat Nabi Nuh dengan Cara Ditenggelamkan

“Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami teng-gelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesung-guhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).” (QS. Al A’raaf, 7: 64) !
“Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal.” (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 120) !
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Ankabuut, 29: 14) !

· Dibinasakannya Putra Nabi Nuh

Sehubungan dengan dialog antara Nabi Nuh dan putranya, pada permulaan banjir, Al Quran mengungkapkan:
“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang lak-sana gunung, dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara ke-duanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang diteng-gelamkan.” (QS. Huud, 11: 42-43) !

· Diselamatkannya Orang-Orang yang Beriman dari Banjir
“Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan.” (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 119) !
“Maka kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia.” (QS. Al Ankabuut, 29: 15) !

· Bentuk Fisik dari Banjir yang Terjadi
“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh te-lah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku.” (QS. Al Qamar, 54: 11-13) !
“Hingga apabila perintah Kami datang dan 'dapur' (permukaan bu-mi yang memancarkan air hingga menyebabkan timbulnya taufan) telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu, kecuali orang yang telah terdahulu kete-tapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.”
Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang lak-sana gunung, dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” (QS. Huud, 11: 40-42) !
“Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera di bawah peni-likan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan 'tannur' telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (QS. Al Mu’minuun, 23: 27) !

· Terdamparnya Perahu di Tempat yang Tinggi
“Dan difirmankan: “Hai bumi tahanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: ‘Binasa-lah orang-orang yang zalim’.” (QS. Huud, 11: 44) !

· Pelajaran dari Peristiwa Banjir
“Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung), Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadi-kan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.” (QS. Al Haaqqah, 69:11-12) !

· Pujian Allah terhadap Nabi Nuh
“Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”. Sesungguh-nya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Ash-Shaaffaat, 37: 79-81) !

Rabu, 03 Agustus 2011

HARI AKHIR DAN MUNCULNYA AL MAHDI

 Beberapa penjelasan penting mengenai Hari Akhir adalah sebagai berikut: Selama kekacauan mengerikan di hari akhir, Allah akan memerintahkan seorang hamba yang mempunyai akhlak yang mulia, yang dikenal sebagai Al Mahdi (pemberi petunjuk ke arah kebenaran), untuk mengajak umat manusia kembali ke jalan yang benar. Tugas pertama Al Mahdi akan berupa dikobarkannya perang pemikiran di dalam dunia Islam dan mengembalikan umat Muslin yang telah jauh dari intisari Islam sejati, menuju iman dan akhlak sesungguhnya. Dalam hal ini, Al Mahdi mempunyai tiga tugas dasar:
1. Menghancurkan seluruh sistem filsafat yang mengingkari keberadaan Allah dan mendukung ateisme.
2. Memerangi takhayul dengan membebaskan Islam penindasan orang-orang munafik yang telah menyimpangkan agama, dan kemudian mengungkap dan melaksanakan akhlak Islam sejati yang didasarkan pada aturan Al Qur’an.
3. Memperkuat seluruh dunia Islam, baik secara politik maupun sosial, dan kemudian mengembangkan perdamaian, keamanan, dan kesejahteraan serta memecahkan berbagai masalah kemasyarakatan.
Menurut sejumlah besar hadits, Nabi ‘Isa AS akan turun ke bumi pada waktu bersamaan dan akan menyeru seluruh pemeluk Kristen dan Yahudi, khususnya, untuk meninggalkan berbagai kepercayaan takhayul yang diyakini oleh mereka pada saat ini dan hidup menurut Al Qur’an. Ketika pemeluk Kristen telah mendengarkannya, umat Islam dan Kristen akan bersama di bawah satu keimanan dan dunia ini akan mengalami zaman perdamaian, keamanan, kebahagian, dan kesejahteraan terbesar yang dikenal sebagai Masa Keemasan.


  • TANDA-TANDA KEDATANGAN AL-MAHDI
 1. Penyimpangan mendalam
Sementara lingkungan yang menyimpang justru dapat membuat orang-orang beriman dengan iman yang kuat meningkat keimanan dan kesabaran mereka, dan pahala mereka di Hari Akhirat, lingkungan seperti ini menyebabkan orang-orang dengan iman yang lemah dan dangkal menjadi kehilangan keimanan mereka atau semakin memperlemahnya. Al Mahdi akan datang ketika lingkungan yang menyimpang ini sudah sangat dalam dan parah.
Al Mahdi, salah satu kaumku, muncul sebagai manusia dengan ridha Allah, saat Hari Pembalasan sudah dekat dan melemahnya hati orang-orang beriman karena kematian, kelaparan, dan hilangnya sunah, dan munculnya kemajuan teknologi dan hilangnya makna memerintahkan kebenaran dan melarang kemungkaran. Kemakmuran dan keadilannya akan memudahkan hati orang-orang yang beriman, dan persahabatan serta saling mencintai akan menyelesaikan perselisihan di antara bangsa-bangsa non-Arab dan Arab. (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-burhan fi ’Alamat al-Mahdi Akhir al-Zaman, halaman. 66)
Kekacauan, penyimpangan, dan ketakutan akan muncul di Barat .... Penyimpangan akan meningkat pesat. (Mukhtasar Tazkirah Qurtubi)
Sejenis penyimpangan akan muncul ke permukaan. Tidak satu pun pihak mampu melindungi dirinya dari penyimpangan itu, dan penyimpangan itu menyebar segera ke setiap penjuru. Situasi ini akan bertahan hingga seseorang datang dan berkata, “Hai umat manusia, mulai saat ini pemimpinmu adalah Al Mahdi.” (Ibnu Hajar Haytahami, Al-Qawl al-Mukhtasar fi’alamat al-Mahdi al-Muntazar, hal. 23)
Hadits ini berbicara mengenai sebuah penyimpangan yang akan menyentuh setiap orang dan menyebar dengan cepat. Dengan kata lain, sejenis penyimpangan yang dikenal oleh setiap orang dan menjadikan orang-orang beriman sebagai sasarannya. Penyimpangan ini menentang agama dan Allah. Saat ini, filsafat materialis adalah kecenderungan utama terbesar yang dirancang untuk menolak keberadaan dan penciptaan Allah. Landasan filsafat ini adalah 'teori evolusi', yang memberikan dasar, yang oleh pencetusnya disebut sendiri sebagai hal “ilmiah”. Walaupun tidak didasarkan pada bukti ilmiah dan logika apa pun, kalangan materialis tertentu di seluruh dunia tetap berusaha agar teori ini diterima, dengan menggunakan cara-cara yang dikaitkan dengan propaganda yang kuat, kebohongan, dan bahkan penipuan.
Pada saat ini, ketika teori ini telah merasuki hampir setiap rumah tangga melalui media massa dan televisi, maka setiap orang di dunia Islam dan di mana pun berada telah mendengarkannya. Teori ini adalah teori pertama yang dinyatakan sebagai kenyataan ketika seseorang masih kanak-kanak dengan cara kebohongan dan penipuan yang tidak terhitung banyaknya. Ketika mereka tumbuh semakin dewasa, mereka terus disesatkan oleh omong kosong lucu ini, bahwa mereka dan seluruh umat manusia muncul sebagai makhluk hidup hanya karena kebetulan dan bahwa mereka adalah keturunan monyet. Para pemuda dari semua usia dicuci otaknya di seluruh tingkatan pendidikan melalui kebohongan para evolusionis.
Ada sebuah poin penting yang perlu digarisbawahi di sini. Sebagaimana ditekankan oleh Rasulullah SAW pada salah satu haditsnya, penyimpangan yang menyebar cepat dan merata di seluruh dunia hanya bisa mengemuka ketika perangkat teknologi yang tepat tersedia, seperti yang ada sekarang (misalnya, media massa, penerbitan, media elektronik, internet, dan komunikasi satelit). Ketika teknologi tersebut belum muncul di masa lalu, penyimpangan tidak akan menyebar ke seluruh dunia. Akibatnya, tidak ada bentuk penyimpangan lain yang telah menyatakan perang atas keberadaan, penciptaan dan agama Allah terlihat di masa lalu. Semua hal ini adalah di antara tanda-tanda penting, sehingga datangnya Al Mahdi bertepatan dengan masa sekarang.
  
2. Larangan agama yang mendapatkan penerimaan
Gaya hidup yang marak pada masa sekarang, yang telah menyebar begitu luas dalam beberapa dekade terakhir, dan tidak membuat perbedaan yang jelas antara apa yang dilarang dan diperbolehkan oleh agama, dan justru mentolerir segala jenis penyimpangan, mencerminkan lingkungan yang digambarkan dalam hadits-hadits ini. Beberapa hadits menjelaskan lingkungan kegelapan ini, pertanda datangnya Al Mahdi, sebagai berikut:
Al Mahdi tidak akan muncul, kecuali orang-orang kafir menyerbu ke segala tempat dan secara terbuka dilakukan di depan umum. Yang berkuasa di saat seperti itu adalah penyerbuan oleh orang-orang tak beriman.... Itulah kekuatannya. (Mektubat-i Rabbani, 2:259).
Al Mahdi akan datang setelah berbagai penyimpangan keji (fitnah), di mana seluruh larangan dianggap sebagai hukum (Ibnu Hajar al-Haythami, Al-Qawl al-Mukhtasar fi `Alamat al-Mahdi al-Muntazar, hal. 23).

3. Perang Iran-Irak
Akan ada huru hara di bulan Syawal (bulan kesepuluh dalam kalender Hijriyah), pembicaraan tentang perang di bulan Dzulqa’dah (bulan kesebelas dalam kalender Hijriyah) dan pecahnya perang di bulan Dzulhijjah (bulan kedua belas). (Allamah Muhaqqiq Ash-Sharif Muhammad ibn 'Abd al-Rasul, Al-Isaatu li Asrat'is-saat, hal. 166)
Tiga bulan yang dimaksudkan dalam hadits ini kebetulan bertepatan dengan bulan-bulan berkecamuknya Perang Iran Irak. Pemberontakan pertama atas Shah Iran berlangsung pada 5 Syawal 1398 (8 September 1976), seperti yang ditunjukkan oleh hadits ini, dan perang meletus antara Iran dan Irak pada bulan Dzulhijjah 1400 (Oktober 1980).
Hadits lain menjelaskan keterangan perang ini sebagai berikut:
Sebuah bangsa/suku akan datang dari arah Persia, dengan menyeru, “Kamu bangsa Arab! Kamu begitu bersemangat! Apabila Kamu tidak memberi hak mereka yang sebenarnya, tidak satu pun akan bersekutu denganmu ... Hak itu harus diberikan kepada mereka satu hari dan kepadamu pada hari berikutnya, dan janji-janji kerja sama harus ditepati...! Mereka akan berangkat ke Mutekh; umat Islam akan turun ke lembah itu ... Orang-orang musyrik akan berdiri di sana di tepi sebuah sungai hitam (Rakabeh) di sisi lain. Akan ada perang di antara mereka. Allah akan mencabut kedua pasukan itu dari kemenangan ... (Al Barzeenji, Signs of the Judgment Day, p. 179)
- Bangsa yang datang dari arah Persia: bangsa yang datang dari wilayah Iran
- Persia: Iran, orang-orang Iran
- Turun ke lembah: Lembah, Lembah Iran
- Mutekh: Nama sebuah gunung di wilayah itu
- Rakabeh: Wilayah tempat sumur-sumur minyak terpusat
Hadits ini menarik perhatian karena pecahnya perselisihan rasial yang akan menyebabkan kedua belah pihak turun ke lembah (Lembah Iran) dan terjadinya perang. Kemudian, seperti yang dicatat di hadits ini, Perang Iran Irak berlangsung selama 8 tahun, dan walaupun ribuan korban telah berjatuhan, tetapi tidak satu pun pihak dapat menyatakan kemenangan atau keunggulan yang mutlak.

4. Pendudukan Afghanistan
Taliqan yang sangat miskin (sebuah wilayah di Afghanistan), yang di tempat itu berada harta Allah, tetapi bukan emas dan perak, tetapi terdiri dari orang-orang yang mengenal Allah seperti mereka seharusnya mengenalnya. (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-zaman, hal. 59)
Ada suatu petunjuk bahwa Afghanistan akan diduduki selama Hari Akhir. Invasi Rusia ke Afghanistan berlangsung pada tahun 1979 (1400, menurut kalender Hijriyah). Selain itu, hadits ini mengajak kita memperhatikan kekayaan alam Afghanistan. Saat ini, kandungan minyak bumi yang besar, tambang besi dan tambang batu bara yang belum digali secara komersial telah ditemukan di sana.

5. Berhentinya aliran sungai Eufrat
Berhentinya dan terganggunya aliran sungai Eufrat merupakan salah satu tanda kedatangan Al Mahdi.
Segera sungai Eufrat akan memperlihatkan kekayaan (gunung) emas, maka siapa pun yang berada pada waktu itu tidak akan dapat mengambil apa pun darinya. (HR Bukhari)
Sungai itu (Eufrat) akan memperlihatkan sebuah gunung emas (di bawah sungai itu). (Abu Daud)
Berbagai buku hadits menyebutkan kedua peristiwa ini. Al-Suyuti menyebutkan hadits ini sebagai ‘berhentinya air.’ Sebenarnya Bendungan Keban telah menghentikan aliran air sungai ini. Tanah sekitarnya telah menjadi sama nilainya dengan emas karena berbagai alasan, seperti dihasilkannya aliran listrik dan begitu suburnya tanah pertanian melalui fasilitas irigasi dan transportasi sejak bendungan itu dibuat. Bendungan ini menyerupai gunung betun, dan kekayaannya senilai emas yang keluar dari sungai itu. Oleh karena itu, dam ini menyerupai sifat-sifat ‘gunung emas’ (Allah-lah Yang Maha Tahu).

6. Gerhana bulan dan matahari di bulan Ramadhan
Ada dua tanda untuk kedatangan Al Mahdi ... Yang pertama adalah gerhana bulan di malam pertama Ramadhan, dan kedua adalah gerhana matahari di pertengahan bulan ini. (Ibn Hajar al-Haythami, Al-Qawl al-Mukhtasar fi `Alamat al-Mahdi al-Muntazar, hal. 47)
Akan ada dua gerhana matahari di bulan Ramadhan sebelum kedatangan Al Mahdi. (Mukhtasar Tazkirah Qurtubi)
... Gerhana matahari di pertengahan bulan Ramadhan dan gerhana bulan di akhirnya .... (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-zaman, h. 37)
Telah sampai kepadaku bahwa sebelum Al Mahdi datang bulan akan gerhana dua kali di bulan Ramadhan (Diriwayatkan oleh by Abu Nu'aym in al-Fitan)
Yang menarik di sini adalah, tidak mungkin akan ada dua gerhana matahari dan gerhana bulan dalam satu bulan. Hal ini tidak dapat terjadi pada keadaan biasa. Akan tetapi, sebagian besar tanda-tanda Hari Akhir merupakan peristiwa-peristiwa yang dapat dijangkau dan diwujudkan oleh pikiran manusia, dan tergantung pada alasan tertentu.
Apabila peristiwa-peristiwa ini dianalisis lebih lanjut, sejumlah perbedaan menjadi jelas. Yang terbaik dilakukan dalam keadaan seperti ini adalah menentukan hal-hal yang menjadi kesepakatan. Dugaan yang ada adalah sebagai berikut: akan ada gerhana matahari dan bulan selama bulan Ramadhan. Keduanya akan berjarak sekitar 14-15 hari dan gerhana-gerhana ini akan berulang dua kali.
Sejalan dengan perhitungan ini, ada sebuah gerhana bulan pada tahun 1981 (tahun Hijriyah 1401) pada hari ke-15 bulan Ramadhan dan gerhana bulan pada hari ke-29 pada bulan tersebut. Ada pula sebuah gerhana bulan “kedua” pada tahun 1982 (tahun Hijriyah 1402) pada hari ke-14 bulan Ramadhan dan gerhana matahari pada hari ke-28 pada bulan tersebut.
Ini juga penting, terutama karena dalam contoh khusus ini, akan ada sebuah gerhana bulan penuh di pertengahan bulan Ramadhan, sebuah ramalan yang paling mendekati kebenaran.
Kejadian peristiwa-peristiwa ini selama kurun waktu yang sama bertepatan dengan tanda-tanda kedatangan Al Mahdi. Hal tersebut, beserta kejadian ulangannya yang menakjubkan di permulaan abad keempat belas Hijriah selama dua tahun berturut-turut (1401-02), menjadikan kejadian-kejadian ini mungkin adalah tanda-tanda yang disebutkan oleh hadits.

7. Munculnya sebuah komet
Sebuah bintang dengan ekor bercahaya akan muncul dari Timur sebelum munculnya Al Mahdi. (Ka’b al-Ahbar)
Sebuah komet akan muncul di Timur dengan mengeluarkan cahaya sebelum tiba. (Ibn Hajar al-Haythami, Al-Qawl al-Mukhtasar fi `Alamat al-Mahdi al-Muntazar, hal. 53)
Munculnya bintang itu akan terjadi setelah gerhana matahari dan bulan. (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-zaman, hal. 32).
Seperti yang disebutkan oleh sejumlah hadits,
Pada tahun 1986 (1406 Hijriyah), komet Halley melintasi bumi. Komet ini merupakan sebuah bintang terang bersinar yang melintas dari Timur ke Barat. Ini terjadi setelah gerhana matahari dan bulan pada tahun 1981 dan 1982 (1401-1402 Hijriyah).
Kejadian munculnya bintang ini dengan tanda-tanda lain kemunculan Al Mahdi menunjukkan bahwa komet Halley adalah bintang seperti yang dimaksudkan di hadits ini.

8. Penyerbuan Ka’bah dan akibat pertumpahan darah
Orang-orang akan menunaikan ibadah haji bersama-sama dan berkumpul tanpa seorang Imam. Orang-orang yang naik haji akan dilempari dan akan ada sebuah peperangan di Mina yang menyebabkan banyak orang terbunuh dan darah akan mengalir sampai Jumratul Aqabah. (Jamra: sebuah pilar batu yang menjadi simbol Setan dan dilempari dengan batu jumrah selama ibadah haji.) (Diriwayatkan oleh 'Amr ibn Shu'ayb, al-Hakim and Nu'aym ibn Hammad)
Orang-orang akan menunaikan ibadah haji tanpa seorang imam yang memimpin mereka. Peperangan besar akan pecah ketika sampai ke Mina dan mereka dilempari seperti anjing dilempari dan suku-suku saling menyerang satu dengan lainnya. Perselisihan ini meluas sehingga kedua kaki terkubur di genangan darah. (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-zaman, h. 35)
Kata “pada tahun ketika dia akan muncul” menarik perhatian kita pada sebuah pembantaian yang akan terjadi pada tanggal kemunculan Al Mahdi. Pada tahun 1979, sebuah pembantaian yang sangat mirip dengan ini terjadi selama penyerbuan Ka’bah, yang terjadi selama bulan haji. Yang sangat menarik karena penyerbuan ini terjadi pada permulaan periode selama itu tanda-tanda munculnya Al Mahdi, yaitu hari pertama 1400 Hijriyah (21 November 1979).
Hadits-hadits ini juga menyebutkan pertumpahan darah dan pembantaian. Pembunuhan atas 30 orang selama bentrokan antara tentara Arab Saudi dan para militan yang melakukan penyerangan selama penyerbuan itu memperkuat kebenaran bagian lain dari hadits ini.
Tujuh tahun kemudian, sebuah peristiwa yang lebih berdarah terjadi selama bulan haji. Pada peristiwa ini, 402 jamaah haji yang melakukan demonstrasi terbunuh, dan banyak menimbulkan pertumpahan darah. Baik tentara Arab Saudi maupun jemaah haji Iran telah melakukan dosa besar karena mereka saling membunuh. Insiden berdarah ini mempunyai kesesuaian yang tinggi dengan peristiwa yang dijelaskan dalam hadits ini.
There come the cries of war in (the month of) Shawwal with the outbreak of war, massacre, and carnage in (the month of) Dhu'l-Hijja. The pilgrims are plundered in this month, the streets cannot be crossed because of the blood shed, and religious prohibitions are violated. Big sins are committed near the Magnificient House (the Ka`ba). (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-zaman, p. 37)
Akan datang tangis peperangan di bulan Syawal dengan pecahnya perang, pembantaian, dan pembunuhan di bulan Dzulhijjah. Jamaah haji dijarah di bulan ini, jalan-jalan tidak dapat dilewati karena genangan darah, dan larangan agama dilanggar. Dosa besar telah dilakukan di sisi Rumah Penuh Berkah (Al Ka’bah). (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-zaman, h. 37)
Hadits ini menarik perhatian kita pada insiden yang akan terjadi di dekat Ka’bah. Insiden selama tahun 1407 Hijriyah sebenarnya terjadi dekat Ka’bah, dan bukan di dalamnya, yang berbeda dengan peristiwa tahun 1400 Hijriyah. Kedua insiden ini terjadi tepat seperti yang dimaksudkan oleh hadits-hadits tersebut.

9. Terlihatnya api di Timur
Di bagian lain dari tanda-tanda munculnya Al Mahdi,, buku Ikdidduerer menyatakan: ”Munculnya sebuah kebakaran besar yang terlihat di Timur hingga mencapai langit selama tiga malam. Terlihatnya warna merah yang besar tidak semerah warna fajar lazimnya, dan merebak di atas horison. (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-zaman, h. 32)
Sebuah kebakaran besar akan terjadi di Timur selama 3 atau 7 hari dalam sebuah rentetan yang diikuti dengan kegelapan di langit dan warna kemerahan baru yang tidak seperti warna merah biasa yang menyebar di atas langit. Sebuah pernyataan akan didengar dalam sebuah bahasa yang dapat dipahami bumi. (Allamah Muhaqqiq Ash-Sharif Muhammad ibn 'Abd al-Rasul, Al-Isaatu li Asrat'is-saat, h. 166)
Aku bersumpah bahwa sebuah api besar akan mengurungmu. Api itu sekarang dalam keadaan padam di lembah yang disebut Berehut. Api itu menelan orang-orang dengan rasa sakit yang pedih di dalamnya, membakarnya, dan menghancurkan jiwa dan harta, dan menyebar ke seluruh dunia dengan terbang seperti awan melalui bantuan angin. Panasnya di malam hari lebih tinggi daripada suhu siang hari. Dengan berjalan hingga sedalam pusat bumi dari kepala-kepala manusia, api itu menjadi sebuah keributan besar, tepat seperti kilat antara bumi dan langit, demikian beliau bersabda. (Mukhtasar Tazkirah Qurtubi)
Penjelasan singkat tentang api ini, sebuah tanda kedatangan Al Mahdi adalah sebagai berikut:
Pada bulan Juli 1991, setelah invasi Irak ke Kuwait, sebuah kebakaran besar menyebar melintasi Kuwait dan Teluk Persia setelah pasukan Irak membakar sumur-sumur minyak Kuwait.
Selain itu, bagian pertama hadits ini mengatakan bahwa api itu berada ‘dalam keadaan padam.’ Oleh karena itu, api itu disebabkan oleh dibakarnya suatu zat yang mudah terbakar. Yang menunggu dalam keadaan padam bukanlah api itu sendiri, melainkan bahan yang akan dibakar oleh api tersebut.
Dalam hal ini, zat tersebut berarti minyak bumi di bawah tanah. Berehut adalah nama sebuah sumur – sebuah sumur minyak bumi. Ketika waktu itu datang, minyak bumi yang dikeluarkan dari sumur-sumur itu akan menjadi api yang siap untuk dibakar.

10. Sebuah tanda dari matahari
Dia (Al Mahdi) tidak akan datang, kecuali ada sebuah tanda muncul dari matahari. (Ibn Hajar al-Haythami, Al-Qawl al-Mukhtasar fi `Alamat al-Mahdi al-Muntazar, h. 47)
Al Mahdi tidak akan datang, kecuali terbitnya matahari sebagai suatu pertanda. (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-zaman, h. 33)
Ledakan besar yang terdeteksi di matahari selama abad kedua puluh dapat merupakan tanda ini.
Selain itu, pada tanggal 11 Agustus 1999, gerhana matahari adalah gerhana terakhir abad kedua puluh. Gerhana ini adalah gerhana pertama yang dapat dilihat oleh begitu banyak orang dan dapat dipelajari dalam jangka waktu yang begitu panjang.

11. Membangun Kembali Tempat-tempat yang Telah Hancur
Pembangunan kembali tempat-tempat yang hancur di dunia dan reruntuhan bangunan-bangunan adalah tanda dan petunjuk penting Hari Kiamat (Ismail Mutlu, Kıyamet Alametleri, (Signs of the Last Day), Mutlu Publications, Istanbul, 1999, hal.138).

12. Berbagai hadits meriwayatkan bahwa Al Qur’an
berbicara tentang Al Mahdi
Al Mahdi akan memerintah bumi, tepat seperti Dzulqarnain dan Sulaiman (Ibn Hajar al-Haythami, Al-Qawl al-Mukhtasar fi ‘Alamat al-Mahdi al-Muntazar, h. 29).
Ashabul Kahfi akan menjadi para penolong Al Mahdi (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-zaman, hal. 59).
Jumlah penolong Al Mahdi akan sama banyaknya seperti orang yang melintasi sungai bersama Thalut (Al-Muttaqi al-Hindi, Al-Burhan fi Alamat al-Mahdi Akhir al-Zaman, hal. 57).